MENGGAPAI TARGET MELEWATI HAMBATAN REGULASI

Pengantar

Ekonomi Indonesia tahun 2016 tumbuh 5,02% lebih tinggi dibanding capaian tahun 2015 sebesar 4,88 persen. Namun demikian  pertumbuhan ini lebih rendah dari asumsi yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBNP) yang sebesar 5,2%. Menurut Menteri Keuangan realisasi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2016 tersebut masih termasuk peringkat ketiga terbaik di antara negara-negara anggota G-20.  Pertumbuhan ekonomi ini juga didukung dengan terjaganya stabilitas ekonomi yang tercermin dari tingkat Inflasi hanya 3,1% atau lebih rendah dibanding asumsi inflasi di APBNP 2016 yang sebesar 4,0% dan nilai tukar mata uang yang bertengger di level Rp. 13.307 per USD atau lebih kuat dibanding asumsi dalam APBNP 2016 sebesar Rp.  13.500 per USD. Pertumbuhan ekonomi ini sebenarnya cukup kondusif untuk mencapai hasil yang optimal. Namun adanya regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mewajibkan Dana Pensiun Pemberi Kerja harus menempatkan investasinya minimal 20 % pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) pada akhir tahun 2016 menghambat capaian hasil investasi sehingga tidak bisa optimal. Imbal hasil SBN tahun 2016 relatif sangat kecil karena untuk memperolehnya harga pasarnya sudah relatif tinggi.

Secara spesifik perkembangan ekonomi dan keuangan yang terkait dan mempengaruhi investasi Dana Pensiun YAKKUM bisa dijelaskan dalam uraian di bawah ini.

Perkembangan BI Rate dan Tingkat Bunga LPS

Suku bunga acuan Bank Indonesia atau yang biasa dikenal dengan BI rate sejak awal tahun 2016 berada pada tingkat yang relatif  rendah. Dalam perkembangannya Bank Indonesia melakukan penguatan kerangka operasi moneter dengan memperkenalkan suku bunga acuan atau suku bunga kebijakan baru yaitu BI 7-Day Repo Rate, yang berlaku efektif sejak 19 Agustus 2016. Perkembangan BI rate selam tahun 2016 menunjukkan tren yang menurun yang mengindikasikan hasil pengembangan investasi dari sektor perbankan cenderung menurun.

Demikian juga dengan bunga yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengalami kecenderungan menurun sebagai nampak dalam grafik di bawah ini :

Perkembangan Indeks Harga Saham

Beberapa jenis investasi yang dilakukan oleh Dana Pensiun adalah investasi di Pasar Modal, baik secara langsung atau tidak langsung melalui instrumen yang berbasis pada instrumen di Pasar Modal. Beberapa diantaranya adalah investasi saham yang dijual di bursa saham, obligasi maupun reksadana yang portofolio investasinya adalah saham, obligasi maupun pasar uang. Perkembangan Pasar Modal khususnya saham tercermin pada indeks harga saham gabungan atau IHSG. Grafik berikut menunjukan fluktuasi indeks harga saham gabungan yang memiliki tren kenaikan.

Selama tahun 2016, IHSG mengalami kenaikan sebesar 15 %. Kenaikan IHSG ini, menggambarkan potensi hasil investasi yang menarik jika tepat dalam memilih saham-saham perusahaan dan industri yang menguntungkan.

Imbal Hasil Reksadana

Instrumen reksadana dalam beberapa tahun yang lalu menjadi salah satu instrumen investasi yang cukup menarik karena mampu menopang hasil pengembangan investasi Dana Pensiun YAKKUM. Namun sepanjang tahun 2016, imbal hasil reksadana ternyata tidak begitu atraktif. Berdasarkan data dari Infovesta Utama, imbal hasil reksadana pendapatan tetap 8,02%,  reksadana campuran 9,29 % dan reksadana saham hanya 7,70 %. Oleh karena imbal hasil yang relatif kecil inilah, maka Dana Pensiun YAKKUM selama tahun 2016, tidak menambah portofolio investasi reksadana.

Imbal Hasil Obligasi

Berdasarkan siaran pers PT Penilai Harga Efek Indonesia atau Indonesian Bond Pricing Agency (IBPA), kinerja pasar obligasi indonesia yang ditunjukkan dalam Indonesian Composite Bond Index (ICBI) meningkat positif. Positive return ICBI tahun 2016 sebesar 13,74 %. Angka ini lebih tinggi dari tahun 2015 yang return-nya hanya 4,20%. Secara spesifik, kinerja obligasi pemerintah sebesar 13,93 % dan kinerja obligasi korporasi 12,62%. Oleh karena kinerja ini sangat atraktif, Dana Pensiun YAKKUM selama ini meningktkan porsi.

Portofolio Investasi Dan Hasil Investasi 2016

Selain pertimbangan situasi perkonomian di atas, pada tahun 2016 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan peraturan baru yang mewajibkan Dana Penisun Pemberi Kerja untuk menempatkan investasinya pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN)  dan Obligasi BUMN yang berbasis infrastruktur minimal 20 %. Peraturan ini sebenarnya cukup memberatkan Dana Pensiun mengingat imbal hasil SBN yang relatif kecil. Memperhatikan hal tersebut di atas, maka, maka alokasi investasi pada tahun 2016, mulai mengalihkan alokasi investasi pada deposito ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan menambah porsi Obligasi. Hal tersebut tercermin dalam portofolio investasi akhir tahun 2016 sbb :

No.

Jenis Investasi

Jumlah

% tase

1.

Surat Berharga Negara

27.037.457.198

15,9%

2.

Tabungan

1.705.693.206

1,0%

3.

Deposito on Call

1.000.000.000

0,6%

4.

Deposito berjangka

68.089.000.000

40,1%

5.

Saham

9.899.609.000

5,8%

6.

Obligasi

46.944.736.960

27,7%

7.

Unit Penyertaan Reksadana

14.944.318.675

8,8%

 

Jumlah

169.620.815.040

100,0%

Nilai penempatan investasi akhir tahun 2016 jika dibandingkan akhir tahun 2015 yang nilainya sebesar Rp 148.355.836.680, maka mengalami kenaikan sebesar 14 %. Dari pengelolaan investasi yang dilakukan selama tahun 2016,  hasil pengembangan investasi yang dicapai oleh Dana Pensiun YAKKUM adalah 9,20 %. Hasil Pengembangan ini berada di atas target yang ditetapkan oleh Pendiri dan Dewan Pengawas dalam Arahan Investasi yaitu 8 %. Apakah hasil pengembangan tersebut cukup layak ? Sebagai benchmark dapat dilihat data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2016, rata-rata return on invesment (ROI) atau hasil pengembangan investasi Data Penisun Indonesia adalah 7,1%. Secara lebih detail data OJK menunjukkan untuk Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP) sebesar 7,8 % dan DPPK Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP) Â adalah 6,2%. Sedangkan ROI untuk Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK)  adalah 6,0%. Hal ini berarti hasil pengembangan investasi Dana Pensiun YAKKUM lebih tinggi dari rata-rata industri dana pensiun di Indonesia.

Rencana Investasi Dapen Yakkum 2017

Perkembangan ekonomi tahun 2017, diperkirakan akan lebih baik dari tahun 2016. Pasar modal diperkirakan akan bertumbuh lebih baik, bunga deposito dan kupon obligasi akan cenderung menurun seiring dengan penurunan bunga deposito. Peraturan OJK telah menetapkan bahwa penempatan investasi Dana Penisun akhir tahun 2017 minimal harus mencapai porsi 30 %. Oleh karena itu arah alokasi investasi Dana Pensiun YAKKUM tahun 2017, akan terus mengurangi alokasi pada deposito dan menambah alokasi pada Surat Berharga Negara (SBN) menjadi sekitar 30 %, menambah pada penempatan saham menjadi sekitar 7 %, dan reksadana sekitar 20 %, Namun rencana investasi ini dapat disesuaikan mengikuti realitas perkembangan situasi ekonomi dan keuangan yang terjadi. Prinsip yang tetap dipegang adalah mengupayakan hasil yang optimal namun dalam batas resiko yang bisa ukur dan terima. Dengan tetap memohon pertolongan Tuhan kami berharap Dana Pensiun YAKKUM akan terus bertumbuh menjadi lebih baik. Amin

Ditulis oleh : E. Hindro Cahyono, SE., MM. Ketua II Pengurus Dana Pensiun YAKKUM)