IHSG tertekan, dana pensiun belum berencana ubah strategi investasi

 

 

 Ekonomi Indonesia kembali menghadapi tantangan berat. Keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) menaikkan lafi Fed Fund Rate (the Fed) ke level 2%  juga kian memanasnya perang dagang AS dengan China juga akan menghantui ekonomi Indonesia. Perang dagang berpotensi membuat devisit neraca perdagangan indonesia semakin melebar, CAD akan bertambah.   Menghadapi situasi ini Gubernur BI sudah mengirim sinyal kenaikan kebijakan suku bunga meski resiko akan menggerus cadangan devisa  . Usai libur panjang Lebaran, sejumlah isue negatip dari pasar global mengepung pasar financial domestik  menyebabkan IHSG anjlog rata-rata lebih dari 1 % (Kontan 20 Juni 2018)

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tengah melemah menjadi tantangan tersendiri bagi investor dana pensiun. Sejumlah industri dana pensiun masih cari aman dengan tetap dengan menerapkan strategi investasi moderat. Dana pensiun juga tidak tergesa-gesa untuk mengubah racikan investasi.

Direkur Eksekutif Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Bambang Sri Muljadi mengamini hal tersebut. Menurutnya, saat ini jumlah dana yang dialokasikan ke saham pun tidak begitu besar. Para pelaku hanya menempatkan sekitar 10% hingga 15% investasi ke pasar saham.

 “Jadi dengan turunnya indeks maka beberapa dana pensiun lebih berhati-hati. Jika sudah terlanjur masuk pada saham yang sudah di-fundamental-kan lebih baik di-hold,” kata Bambang kepada Kontan.co.id, Kamis (3/5).

Dalam kondisi tersebut, pelaku industri diminta tetap tenang sampai pergerakan pasar naik atau stabil, kemudian bisa kembali membeli saham baru. Ia menyebut, walaupun kondisi indeks cenderung fluktuatif, tetap saja investasi ke pasar saham lebih menjanjikan.

Selain itu, dana investasi tidak bisa seenaknya diubah alokasinya karena telah diatur sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keungan (POJK). Terlebih, perusahaan juga sudah mempunyai rencana bisnis yang sudah diatur untuk satu tahun ke depan.

Kondisi saham yang tertekan diyakini hanya bersifat sementara, dengan begitu pihaknya optimistis dana pensiun bisa membukukan imbal hasil sekitar 7% hingga 9% sampai penghujung tahun nanti.

Direktur Utama Dana Pensiun BTN Saut Pardede mengatakan, sejauh ini pihaknya tidak berencana mengubah portofolio ke jenis investasi yang risikonya lebih kecil. Hingga kini, porsi saham Dapen BTN dari total portofolio kurang dari 10%. Sedangkan sekitar 65% diinvestasikan untuk surat berharga negara (SBN) dan obligasi.

“Untuk menghindari fluktuasi karena kewajiban dana pensiun bersifat jangka panjang dan pasti. Oleh karena itu 65% portofolio berada di SBN dan obligasi korporasi. Selebihnya ada di saham, properti dan kepemilikan anak perusahaan,” kata dia.

Demikian pula Direktur Utama Dana Pensiun Pertamina Adrian Rusman, yang tetap bersikap konservatif dan tidak berniat mengubah pos alokasi atau portofolio investasi. “Kalau meracik ulang, kami pikir tidak,” pungkasnya.

 

HAP

Sumber Kontan.co.id dan Koran Kontan