Perang Dagang Makin Nyata, China Balas Serangan AS
 Perang Dagang Makin Nyata, China Balas Serangan AS

(Apa dampak terhadap Portofolio Investasi Dapen Yakkum)

 

Jakarta, CNBC Indonesia – China meluncurkan serangan balasan terhadap kenaikan bea masuk yang diterapkan Amerika Serikat (AS), Senin (13/5/2019). Beijing mengatakan akan menaikkan bea impor terhadap berbagai produk Negeri Paman Sam senilai US$60 miliar hingga 25% dari 5% hingga 10% saat ini pada 1 Juni mendatang.

Presiden AS Donald Trump, Jumat (10/5/2019) lalu, resmi menaikkan bea masuk terhadap produk China senilai US$200 miliar. Keputusan ini diambil saat kedua negara sedang mengadakan perundingan dagang untuk mengupayakan kesepakatan. Juga, setelah para pejabat dari kedua ekonomi terbesar dunia ini mengatakan bahwa kesepakatan hampir tercapai.

Menanggapi hal itu, Trump mengatakan serangan balik yang diumumkan China, Senin (13/5/2019), justru membuat negaranya dalam posisi yang sangat baik. Perkembangan itu juga menunjukkan “langkah yang sangat positif” dalam negosiasi dagang yang tengah berlangsung.

Serangan balasan China itu menargetkan beberapa sektor produksi yang merupakan basis politik Trump, termasuk produk-produk pertanian dan industri manufaktur. Barang-barang yang menjadi target di antaranya komponen-komponen teknologi, produk-produk industri, gandum, kacang tanah, gula, dan buah beri.

Lantas  apa pengaruhnya terhadap portofolio Investasi Dapen Yakkum, rerata portofolio investasi Dapen Yakkum per 30 April 2019 dimasukkan pada instrumen saham sebesar 5.8% dan Reksadana sebesar 11.60% kedua instrumen ini yang paling berpengaruh terhadap perubahan global.  Awal april IHSG sebesar 6.455,35 pada tanggal 13 Mei 2019 IHSG menjadi 6.135,39 dan kemungkinan besar akan turun lagi seiring dengan tensi Amerika dan China yang semakin memanas, tetap optimis karena target IHSG akhir tahun pada kisaran 6.700 – 7.000 . Peserta tidak perlu kawatir karena penurunan ini,  dengan adanya peraturan OJK yag baru, peserta yang akan pensiun tidak akan mengalami penurunan penerimaan pensiunnya hal ini sudah dituangkan dalam PDP yang baru, yang saat ini dalam proses persetujuan oleh OJK .

 

Sumber CNBC Indonesia

Semoga bermanfaat

HAP